Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digencarkan Pemerintah Kota Cimahi tidak hanya diuji dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga dari jaminan keamanan pangan yang menyertainya.
Isu ini menjadi krusial mengingat sasaran utama MBG adalah anak-anak, kelompok usia yang paling rentan terhadap dampak pangan tidak aman.
Menyadari urgensi tersebut, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi memperkuat pengawasan dengan rutin menggelar Sosialisasi Keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) bagi seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk memastikan setiap bahan pangan yang masuk ke rantai penyediaan MBG tidak hanya mencukupi kebutuhan nutrisi, tetapi juga bebas dari risiko kontaminasi, bahan kimia berbahaya, serta memenuhi standar mutu pangan.
Keamanan pangan ditempatkan sebagai fondasi utama agar program yang menyentuh hajat hidup anak-anak ini tidak justru menimbulkan persoalan kesehatan baru.
Kepala Dispangtan Kota Cimahi, Tita Mariam, menjelaskan bahwa sosialisasi PSAT dirancang untuk meningkatkan pemahaman dasar personel SPPG mengenai prinsip-prinsip keamanan pangan.
Sosialisasi yang disampaikan mencakup pentingnya kebersihan, pemilihan bahan pangan yang aman dan berkualitas, serta teknik pengolahan dan penyimpanan yang sesuai standar.
“Sosialisasi yang dimaksudkan untuk menyadarkan pentingnya memilih bahan pangan segar yang bebas dari kontaminasi dan bahan kimia berbahaya seperti pestisida, klorin, dan formalin, guna menghindari keracunan makanan,” jelas Tita saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (14/1/26).
Ia menambahkan, pangan segar asal tumbuhan adalah bahan pangan yang dapat dikonsumsi langsung atau digunakan sebagai bahan baku olahan. Kelompok pangan ini meliputi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan yang dikenal kaya akan zat gizi esensial.
“Pangan segar asal tumbuhan mengandung vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kesehatan tubuh,” ujarnya.
Melalui sosialisasi yang dilakukan secara konsisten, Dispangtan berharap para peserta tidak hanya memahami konsep keamanan pangan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik sehari-hari.
Edukasi ini, lanjutnya, diharapkan menumbuhkan kesadaran jangka panjang tentang pentingnya penggunaan bahan pangan segar yang aman demi melindungi kesehatan generasi muda.
“Edukasi yang kami lakukan diharapkan mendorong kesadaran akan pentingnya bahan pangan yang bebas dari pestisida, klorin, maupun formalin,” kata Tita.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, menegaskan bahwa aspek keamanan pangan tidak bisa ditawar dalam pelayanan publik, khususnya yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, setiap komoditas pangan yang disajikan kepada anak-anak dalam program MBG wajib melalui proses pengawasan yang ketat dan berlapis.
“Dispangtan Kota Cimahi memastikan setiap bahan pangan atau komoditi yang disajikan untuk anak-anak dalam program MBG benar-benar aman dan kualitasnya memenuhi standar serta lulus uji mutu,” ujar Adhitia.
Ia menekankan, pangan segar asal tumbuhan memiliki peran strategis dalam menunjang pemenuhan gizi seimbang. Sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian merupakan sumber vitamin, mineral, serta serat yang sangat dibutuhkan anak-anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan.
“Pangan segar asal tumbuhan memiliki potensi luar biasa untuk mendukung pemenuhan gizi yang seimbang dan berkualitas,” katanya.
Namun demikian, Adhitia mengingatkan bahwa potensi besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman apabila tidak diiringi dengan penanganan yang tepat. Minimnya pemahaman mengenai cara memilih, mengolah, dan menyimpan bahan pangan kerap menjadi pemicu terjadinya keracunan makanan.
“Salah satunya adalah keracunan makanan yang sering terjadi akibat kurangnya pemahaman memadai mengenai penanganan dan pengolahan pangan,” ungkapnya.
Melalui sosialisasi PSAT yang dilakukan secara berkala, Pemerintah Kota Cimahi berharap kapasitas dan kompetensi personal SPPG semakin meningkat.
Tidak hanya memahami aspek gizi, tetapi juga memiliki pengetahuan teknis terkait keamanan pangan, mulai dari tahap pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyimpanan yang higienis dan aman.
“Saya mengajak semua pihak yang terlibat dalam MBG untuk berkomitmen menjaga keamanan pangan. Pastikan bahan pangan yang digunakan aman, sehat, dan bergizi tinggi. Mari terus berkolaborasi dan berinovasi untuk mewujudkan Cimahi yang lebih sehat dan sejahtera,” ujar Adhitia.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya pengawasan kolektif lintas sektor agar pelaksanaan MBG berjalan optimal dan bebas dari insiden yang dapat merugikan masyarakat.
Menurutnya, MBG bukan sekadar program teknis pembagian makanan, melainkan hajat bersama yang menuntut tanggung jawab dan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan.
“Kita harus sepakat bahwa MBG adalah tanggung jawab bersama. Pengawasan kolektif perlu melibatkan Pemerintah Kota Cimahi, Kejaksaan, Kepolisian, Kodim, dan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya satu, memastikan tidak ada kejadian keracunan di Kota Cimahi,” tutupnya. (Gani Abdurrahman)





