Pewarta : Steven Gervan
TEROPONG INDONESIA- Bogor –, Kalimat sakral “Insun Medal Insun Madangan” yang pernah diucapkan Prabu Tajimalela kembali menggema di hamparan hijau Lembah Megamendung, Kabupaten Bogor. Gaung yang sarat makna tersebut kini mewujud nyata dalam sebuah gerakan untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan masyarakat tani melalui hadirnya Saung Tani Kuta Madangan.
Saung Tani Kuta Madangan merupakan inisiatif Wargi Karaton Sumedang Larang yang lahir dari komitmen menjaga ketahanan ekonomi masyarakat adat. Gerakan ini berupaya memperkuat fondasi kehidupan petani agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan tradisi.
Pada momentum penanaman perdana yang digelar Rabu (10/09/2025), salah satu inisiator, Rd. Artdeansyah, menegaskan bahwa program ini merupakan amanat sekaligus kepercayaan besar dari masyarakat.
“Ini merupakan amanat yang harus dijalankan dengan komitmen kuat. Masyarakat mengamanatkan lahan garapan seluas sekitar 24 hektare sebagai wadah berbasis tradisi dan budaya. Kami menjawab kepercayaan itu dengan membangun konsep pertanian adat terintegrasi menggabungkan pertanian, peternakan, dan pendidikan yang dikerjakan bertahap, dimulai dengan pilot project seluas 1,8 hektare,” jelasnya.
Ia menjelaskan Saung Tani Kuta Madangan digerakkan dengan semangat kolaborasi. Dukungan teknis diberikan oleh Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Bogor, sementara penguatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat akan didukung oleh Emalia Foundation.

Senada, inisiator lainnya, Ahmad Maulana atau akrab disapa Sures, menekankan bahwa keterlibatan multipihak menjadi kunci dalam mewujudkan visi besar ini.
“Dukungan yang datang luar biasa, terutama dari Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Bogor. Saung Tani Kuta Madangan memiliki visi mensejahterakan sekaligus mencerdaskan kehidupan petani adat. Hal ini sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045, sehingga peran serta semua pihak sangat menentukan keberhasilan,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, Saung Tani Kuta Madangan juga meneguhkan perannya sebagai penjaga budaya. Hal ini ditegaskan dalam pesan Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, kepada Rd. Artdeansyah.
“Jaga budaya dan nilai luhur dari Mahkota Binokasih, serta makna mendalam dari Insun Medal Insun Madangan dalam menjalankan kegiatan ini. Semoga membawa berkah dan manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.
Lebih dari sekadar aktivitas bercocok tanam, Saung Tani Kuta Madangan hadir dengan konsep menyeluruh yang juga mencakup rantai pemasaran dan tata kelola penjualan hasil panen. Dengan begitu, inisiatif ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan petani adat yang lebih mandiri, sejahtera, dan bermartabat.





