Pedagang Ayam Potong Cimahi Keluhkan Persaingan Harga, Pemerintah Tekankan Musyawarah Antar Pedagang

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Para pedagang ayam potong di Kota Cimahi yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPETRA) menyuarakan keresahan atas maraknya penjualan ayam potong di bawah harga pasar.

Fenomena ini dinilai telah berdampak pada menurunnya pendapatan pedagang di sejumlah pasar tradisional, terutama di Pasar Antri Baru.

Ketua APPETRA Kota Cimahi, H. Agus Rudiyanto, mengatakan kondisi ini sudah berlangsung sejak sepekan terakhir dan semakin meresahkan karena terjadi secara masif. Menurutnya, harga jual ayam potong yang terlalu murah tidak hanya mengganggu stabilitas harga, tetapi juga berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat antar pedagang.

“Penjualan kami turun drastis karena beredarnya ayam potong dengan harga jauh di bawah standar pemerintah. Ini membuat kami sangat khawatir, terutama soal keberlangsungan usaha para pedagang pasar tradisional,” ujar Agus saat ditemui di Pasar Antri Baru, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Agus menyampaikan bahwa APPETRA telah menyampaikan surat permohonan audiensi kepada Wali Kota Cimahi guna membahas solusi terbaik sebelum terjadi aksi demonstrasi dari para pedagang.

“Kami belum tahu pasti asal ayam tersebut, tapi dari bentuk fisik terlihat berbeda. Kami juga sudah mengumpulkan sampel dan menjadikannya barang bukti. Harapannya, ada pertemuan untuk mencari titik temu, agar tidak terjadi konflik horizontal antar pelaku usaha,” tegasnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Hella Haerani, menjelaskan bahwa pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan atau membatasi harga jual di pasar, termasuk saat ada pedagang yang menjual dengan harga promo.

“Kami tetap memantau, namun perlu dipahami bahwa setiap pelaku usaha memiliki strategi pemasaran masing-masing. Kalau toko baru memberikan harga promo, itu bagian dari cara mereka menarik pembeli. Sama halnya seperti supermarket besar saat menggelar diskon,” jelas Hella saat dihubungi via telpon, Jumat (1/8/2025).

Menurut Hella, harga ayam potong di salah satu toko baru yang sempat dipermasalahkan, memang lebih murah sekitar Rp4.000 dibanding harga di Pasar Antri Baru. Namun, hal ini menurutnya bisa terjadi karena strategi promosi awal atau perbedaan kualitas produk.

“Kalau sebagai konsumen, tentu akan memilih harga yang lebih murah dengan kualitas yang baik. Tapi ini bukan berarti pedagang pasar kalah, mereka justru bisa memanfaatkan momen ini untuk mengevaluasi cara berjualan dan menyesuaikan strategi,” imbuhnya.

Hella menekankan pentingnya komunikasi antar pedagang untuk mencari solusi bersama. Ia mendorong agar APPETRA atau para pedagang mendatangi pedagang yang bersangkutan dan membuka ruang diskusi.

“Jangan sampai sesama pedagang saling menjatuhkan. Lebih baik dimusyawarahkan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan. Pemerintah hanya bisa memfasilitasi, bukan mengatur harga jual di luar aturan yang ditetapkan pusat,” katanya.

Situasi ini mencerminkan pentingnya penguatan daya saing pasar tradisional di tengah gempuran strategi pemasaran dari pelaku usaha modern maupun pedagang baru. Di satu sisi, harga murah memang menarik bagi konsumen, namun di sisi lain dapat menekan keberlanjutan usaha para pedagang lama.

APPETRA berharap pemerintah kota dapat memediasi dialog terbuka antar pedagang agar persaingan tetap sehat dan pasar tradisional tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

Sementara itu, Disdagkoperin menyarankan agar para pedagang juga berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan demi mempertahankan loyalitas pembeli. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *