Teropong Indonesia, Cimahi – Maestro Aksara Sunda, Yudistira Purana Sakyakirti atau akrab disapa Mang Ujang Laip telah menghabiskan lebih dari empat dekade hidupnya untuk merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan aksara Sunda kepada generasi muda, menjadikannya salah satu pelopor pelestarian budaya daerah di Jawa Barat.
Mang Ujang mengaku bahwa awalnya ia berniat mengejar karir di bidang kedokteran. Namun, sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang ahli sastra Sunda pada tahun 1980-an mengubah arah hidupnya sepenuhnya.
“Saat itu saya menyadari bahwa aksara Sunda bukan hanya sekadar tulisan, melainkan wadah jiwa dan identitas masyarakat Sunda yang mulai terlupakan,” ujarnya dalam wawancara.
Sejak saat itu, ia mulai mendalami aksara Sunda secara serius, mempelajari bentuk huruf, aturan tulis, hingga makna filosofis yang terkandung di balik setiap karakter. Ia juga belajar dari para leluhur dan ahli budaya Sunda lainnya untuk memahami konteks sejarah dan budaya yang melingkupi aksara tersebut.
Mang Ujang tidak hanya menjadi ahli aksara Sunda, melainkan juga aktif melakukan berbagai inisiatif untuk menjaga kelestariannya, seperti pelatihan dan workshop.
Setiap bulan, ia menggelar kegiatan pembelajaran aksara Sunda secara gratis bagi masyarakat umum, khususnya anak-anak sekolah dasar dan menengah di wilayah Cimahi dan sekitarnya.
“Kreasi konten kreatif, dengan mengembangkan berbagai produk kreatif berbasis aksara Sunda, seperti kaligrafi, alat tulis, hingga desain pakaian, agar aksara tersebut lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kemudian, kolaborasi dengan pendidikan, yakni bekerja sama dengan beberapa sekolah di Jawa Barat untuk menyertakan pembelajaran aksara Sunda dalam kurikulum lokal.
Terakhir membuat dokumentasi dan penelitian. Dirinya telah mendokumentasikan berbagai bentuk tulisan aksara Sunda dari berbagai daerah di Jawa Barat dan menyusun buku referensi yang menjadi panduan bagi banyak peneliti dan penggemar budaya.
“Kita tidak bisa hanya menyimpan aksara di dalam buku atau museum semata. Ia harus hidup dan berkembang bersama masyarakat,” jelasnya. (Gani Abdul Rahman)





