Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Kasus perundungan yang kembali mencuat di lingkungan sekolah menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Cimahi. Fenomena yang semakin kompleks ini mendorong pemerintah untuk menegaskan pentingnya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, adaptif, serta lebih peka terhadap kesehatan mental peserta didik.
Pemkot Cimahi menilai bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai, mengingat perubahan karakter dan tantangan psikologis yang dihadapi anak-anak saat ini.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adithia Yudhistira, menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan langkah sistematis dan terukur dalam menangani perundungan. Karena itu, ia mendorong percepatan pelaksanaan program Cimahi Mental Health School yang ditargetkan dapat berjalan pada 2026.
Program ini diharapkan menjadi kerangka kerja komprehensif untuk mencegah kekerasan verbal maupun fisik, sekaligus membangun kemampuan regulasi emosi di kalangan siswa dan guru.
Menurut Adithia, perundungan memang bukan persoalan baru, namun dampaknya kini jauh lebih berat. Hal ini terutama dirasakan oleh generasi Alfa yang dikenal lebih sensitif dan rentan terhadap tekanan mental.
Ia menilai bahwa penanganan tidak boleh berhenti pada penyelesaian tiap kasus, tetapi harus berfokus pada pengenalan akar masalah dan pencegahan luka psikologis jangka panjang yang dapat terbawa hingga dewasa.
Adithia menyoroti bahwa praktik mengejek yang dulu dianggap lumrah kini tidak lagi bisa dipandang sepele. “Moyok itu dulu sering dianggap biasa, padahal sejak dulu itu budaya yang tidak baik. Namun saat ini dampaknya bisa jauh lebih serius,” ujarnya saat ditemui di SMPN 9 beberapa waktu lalu. Ia menegaskan bahwa perubahan pola interaksi, paparan media sosial, dan dinamika relasi yang lebih cepat membuat tekanan mental pada siswa semakin tinggi.
Meski mengakui bahwa bullying dapat terjadi di mana saja, Adithia menegaskan bahwa fokus utama harus diarahkan pada upaya mengantisipasi dampaknya. Ia menilai bahwa perilaku bullying harus dipahami sebagai isu yang erat kaitannya dengan kesehatan mental anak.
Dampak psikologis yang ditimbulkan, menurutnya, dapat menghancurkan rasa percaya diri, mengganggu perkembangan sosial, serta memicu gangguan mental jangka panjang.
Adithia juga menekankan bahwa generasi Alfa tumbuh dalam lanskap sosial yang jauh berbeda: lebih digital, lebih cepat, dan penuh tekanan visual. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap stres dan lebih mudah merasa terancam secara emosional. Karena itu, pemerintah harus hadir bukan sekadar memadamkan masalah, tetapi membangun sistem pendidikan yang mampu memberikan ketahanan mental bagi anak.
Melalui program Cimahi Mental Health School, Pemkot Cimahi berkomitmen menciptakan budaya sekolah yang sehat dan empatik. Program ini tidak hanya menyasar siswa sebagai pihak yang berisiko, tetapi juga guru sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung setiap hari.
Dengan pendekatan holistik, pemerintah berharap sekolah di Cimahi mampu menjadi ruang aman yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh, baik secara akademik maupun emosional. (Gani Abdul Rahman)





