Rumah-Rumah di Ciburuy Retak Akibat Getaran Ekskavator, Warga Mendesak Pemerintah Bertindak

Teropong Indonesia, Bandung Barat – Getaran dari aktivitas ekskavator yang melakukan normalisasi Situ Ciburuy telah menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga di RT 2 dan RT 3, RW 13 Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Sebanyak 8 hingga 14 rumah dilaporkan mengalami retakan di berbagai bagian, termasuk kamar, ruang tengah, dan bahkan lantai 2.

Ketua RW 13 Desa Ciburuy, Ahmad Kusnadi, mengungkapkan bahwa ada 3 ekskavator yang beroperasi di lokasi tersebut. Aktivitas ini menimbulkan getaran kuat yang dirasakan oleh warga sekitar.

“Di Situ 2 Ciburuy ini, ada 3 ekskavator, yang 1 ambles. Jadi yang retak itu bermacam-macam, ada di kamar, ruang tengah, sama ada yang di lantai 2 rumah warga,” kata Ahmad Kusnadi.

Warga setempat mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan agar pelaksanaan normalisasi Situ Ciburuy dapat berjalan aman dan tidak mengancam keselamatan warga.

“Dari warga itu tolonglah, minimal ada diskusi dari pihak kontraktor atau pelaksana ini dengan warga supaya diskusi ada kesepakatan siapa yang bertanggung jawab tentang kerusakan ini,” ujar Ahmad Kusnadi.

Meskipun rumah mereka mengalami kerusakan, warga setempat tetap mendukung penuh langkah pemerintah provinsi untuk melakukan penataan Situ Ciburuy.

“Tidak, tidak ada penolakan, kami sepakat ini ditata biar lebih bagus dan rapi,” kata Ahmad Kusnadi.

Saripah, salah satu warga yang rumahnya mengalami retakan, mengungkapkan bahwa kerusakan pada rumahnya semakin parah setelah adanya aktivitas yang ekskavator.

“Sebelumnya ada retak, tapi retakan semen biasa, sesudah ada ekskavator, nambah gede, yang paling gede itu di kamar anak,” kata Saripah.

Ia berharap agar normalisasi Situ Ciburuy dapat dilakukan dengan lebih baik dan memperhatikan keselamatan warga setempat.

Dedi Supriadi, warga lain yang rumahnya juga mengalami kerusakan, juga mengungkapkan hal serupa.

“Belah-belah pak, di ruang tengah ada, di kamar ada. Iya, sejak jalan beko (Ekskavator) saja. Sebelumnya tidak ada retakan. Pengennya ya ada yang bertanggungjawab,” kata Dedi. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *