Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Pemerintah Kota Cimahi terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana yang dipicu oleh aktivitas Sesar Lembang.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penetapan 55 titik evakuasi di seluruh wilayah kota serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana secara mandiri.Pada Jumat, (5/9/2025).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi menggelar Apel Siaga Bencana Geo-Hidrometeorologi dan peningkatan kapasitas Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC PB) di Vin’s Berry Park, Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut penetapan status kewaspadaan daerah terhadap potensi gempa bumi dari Sesar Lembang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyampaikan bahwa pihaknya tidak hanya menyiapkan sumber daya internal, tetapi juga menggandeng seluruh unsur pentahelix termasuk masyarakat, akademisi, dunia usaha, media, dan pemerintah dalam membentuk tim penanggulangan yang tangguh dan terlatih.
“Kesiapsiagaan ini bukan hanya milik BPBD semata. Semua elemen masyarakat harus terlibat. Karena itu, kami sudah menetapkan 55 titik evakuasi di 15 kelurahan untuk digunakan dalam situasi darurat,” jelas Fithriandy.
Titik-titik tersebut akan difungsikan sebagai tempat evakuasi, penampungan logistik, tenda pengungsi, hingga rumah sakit lapangan. Namun, Fithriandy menekankan pentingnya kesiapan individu dan keluarga sebagai lini pertahanan pertama saat bencana terjadi.
Selain apel siaga, BPBD Cimahi juga memberikan pelatihan teknis kepada para peserta, mulai dari manajemen kebencanaan, teknik evakuasi vertikal, penggunaan alat komunikasi seperti handy talky, hingga koordinasi lintas wilayah. Materi yang disampaikan juga menyasar masyarakat luas, termasuk pelajar, lansia, dan penyandang disabilitas.
“Kami lakukan simulasi di kawasan padat penduduk untuk memberikan gambaran langsung kepada warga tentang bagaimana bergerak secara aman saat terjadi gempa. Tujuannya adalah meminimalkan jumlah korban,” tambahnya.
Fithriandy menegaskan bahwa sosialisasi dan edukasi yang dilakukan bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk membangun pemahaman yang benar agar masyarakat dapat bersikap tenang dan cepat saat terjadi bencana.
“Sesar Lembang memang panjangnya 29 kilometer, dan segmen aktif yang berpotensi memengaruhi Cimahi membentang dari Cimeta hingga Cipogor. Warga perlu tahu bagaimana menghadapi potensi tersebut secara cerdas dan terencana,” tutupnya.
Dengan pendekatan kolaboratif dan edukatif ini, Pemerintah Kota Cimahi berharap dapat membentuk masyarakat yang lebih tangguh dan sigap dalam menghadapi bencana alam, khususnya yang berkaitan dengan potensi gempa dari Sesar Lembang. (Gani Abdul Rahman)





