Proyek Bundaran Jati di Cimahi Diperluas, Gunakan Material Modern dan Anggaran Rp 2,2 Miliar

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Proyek pelebaran jalan di kawasan Bundaran Jati, Kota Cimahi, tengah berjalan dengan progres signifikan. Meski awalnya bukan dirancang sebagai bundaran murni, pemerintah berencana menjadikan titik tersebut sebagai bundaran simetris untuk mendukung kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut.

Jabatan Fungsional Teknik Jalan dan Jembatan Ahli Muda Bina Marga, Made Wardana, menjelaskan bahwa proyek ini mencakup berbagai pekerjaan fisik, mulai dari pelebaran jalan, pembangunan saluran drainase, hingga pembuatan trotoar dengan material khusus.

“Material yang digunakan terdiri dari saluran dengan jenis box culvert dan Udith, serta trotoar menggunakan Sandstein dari PT Cisangkan, Cijerah, Bandung. Produk ini setara dengan batu andesit, tetapi lebih kuat karena berbahan dasar cetakan pabrik seperti tegel atau paving block,” ungkap Made saat ditemui Teropong Indonesian di kantornya, Jumat (8/8/2025).

Trotoar di sepanjang jalan tersebut tidak menggunakan batu andesit alami, melainkan produk Sandstein buatan pabrik. Menurut Made, selain memiliki tampilan yang menyerupai andesit, material ini lebih unggul dalam kekuatan dan ketahanan cuaca.

“Warnanya mirip andesit, tapi ini cetakan, bukan batu alam. Keunggulannya, kekuatannya sudah terstandarisasi dan lebih tahan lama,” katanya.

Untuk perkerasan jalan, pihak Bina Marga menggunakan metode perkerasan lentur, yaitu berbahan dasar aspal. Tidak digunakan beton rigid dalam proyek ini.

“Kita pakai LPB setebal 30 cm, LPA 15 cm, kemudian ditambah lapisan AC-BC 7,5 cm sebelum di-hotmix. Metode ini sudah sesuai standar teknis untuk perkerasan lentur jalan baru,” jelas Made.

Salah satu fokus utama dalam proyek ini adalah mengantisipasi genangan air, mengingat kawasan Bundaran Jati rawan tergenang saat hujan deras. Oleh karena itu, dibangun saluran drainase berukuran besar.

“Salurannya menggunakan box dengan dimensi 80×80 cm. Secara teori mampu menampung aliran air dari atas, dan jika pun terjadi genangan, air akan cepat surut,” ujar Made.

Sistem saluran ini dirancang mengalirkan air ke bundaran terlebih dahulu, kemudian dialirkan ke saluran lama menuju hilir. Ini merupakan sistem crossing yang dirancang untuk efisiensi aliran air.

Secara keseluruhan, pelebaran jalan mencakup panjang sekitar 45 meter dengan lebar 7,5 meter untuk jalan baru. Sedangkan jalan lama diperlebar menjadi dua lajur dengan lebar masing-masing 2 meter dan panjang sekitar 70 meter.

Proyek ini dikerjakan oleh CV Satia Anugerah Mandiri dengan nilai kontrak sebesar Rp 2,2 miliar. Kontrak dimulai pada 4 Juni 2025 dan dijadwalkan selesai pada 1 September 2025.

“Secara kontrak, proyek ini sudah laik fungsi. Namun, ada arahan pimpinan agar bentuk bundarannya disesuaikan lebih simetris, maka akan ada sedikit penyesuaian di lapangan,” pungkas Made.

Selain Sandstein, material saluran yang digunakan yaitu Udith merupakan produk pabrikan dari PT Beton Elemindo Perkasa yang berlokasi di Jalan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *