Promethean Shame dan Kecemasan Moral Manusia Modern

Oleh: Asep Tapip Yani

Dosen UMIBA Jakarta

“Prometheus di Depan Cermin”

Aku curi api dari langit tinggi
Kubawa pulang dalam genggam nurani
Tapi kini aku gemetar sendiri
Sebab apiku membakar mimpi

Mesin jadi cerdas, manusia terkikis
Batas ilahi jadi lelucon teknis
Aku dewa yang tertangkap ragu
Karena ciptaanku menatapku

Siapa yang Tuhan, siapa yang budak?
Siapa yang memetik, siapa yang retak?
Di era ciptaan melampaui makna
Apakah manusia masih punya nama?

Kemajuan teknologi dewasa ini menampilkan wajah paradoksal yang menantang perenungan filosofis. Di satu sisi, manusia berhasil menciptakan berbagai inovasi luar biasa dari kecerdasan buatan, senjata nuklir, hingga rekayasa genetika. Namun di sisi lain, keberhasilan itu juga melahirkan kecemasan eksistensial yang mendalam.

Fenomena ini oleh filsuf Jerman, Günther Anders, disebut sebagai Promethean Shame sebuah rasa malu manusia terhadap ciptaannya sendiri, karena merasa tidak sebanding dengan kecanggihan teknologi yang ia hasilkan. Dalam konteks ini, manusia seolah malu menjadi manusia: terbatas, rapuh, dan tidak sekuat apa yang ia ciptakan.

Teknologi yang Melampaui Kemanusiaan

Sebagaimana dalam mitologi Yunani, Prometheus mencuri api dari para dewa dan memberikannya kepada manusia. Api ini menjadi simbol pengetahuan dan kemajuan. Namun hari ini, api yang kita curi dari langit bernama artificial intelligence, machine learning, nuclear science, dan genetic engineering justru menjadi sumber kegelisahan.

Kita menyaksikan bagaimana AI tidak lagi hanya membantu manusia, tapi mulai menggantikan perannya. Algoritma generatif dapat menulis artikel, mencipta musik, melukis, bahkan mengelola keputusan bisnis. Sementara itu, deepfake menghadirkan ancaman baru terhadap kebenaran dan kredibilitas, terutama dalam dunia politik dan keamanan.

Ironisnya, para pencipta teknologi ini pun mulai merasa cemas. Geoffrey Hinton, tokoh sentral dalam pengembangan AI, mengundurkan diri dari Google dan mengakui ketakutannya terhadap potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan. Ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana ciptaan manusia bisa berbalik menjadi sumber kecemasan moral dan sosial.

Ketika Inovasi Menjadi Ancaman

Promethean Shame bukan sekadar rasa minder terhadap mesin, tapi menyangkut pertanyaan fundamental: Apakah kita masih menguasai ciptaan kita?

Dalam bidang senjata, manusia telah menciptakan sistem destruktif paling efektif sepanjang sejarah. Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki adalah simbol kemajuan sekaligus tragedi. Robert Oppenheimer, sang arsitek bom atom, pernah mengutip Bhagavad Gita dengan getir: “Now I am become Death, the destroyer of worlds.”

Demikian pula dalam ranah bioteknologi. Ketika ilmuwan China, He Jiankui, mengumumkan keberhasilan mengedit gen embrio manusia untuk kebal HIV, reaksi dunia bukan kekaguman, tetapi ketakutan. Ciptaan itu melampaui batas etika, menyentuh ranah ilahi: menciptakan manusia versi baru.

Antara Kemajuan dan Kebijaksanaan

Fenomena Promethean Shame mengingatkan kita bahwa kecepatan inovasi tidak selalu seiring dengan kedalaman refleksi etis. Di sinilah letak kegelisahan kita hari ini. Teknologi terus melaju, sementara kebijaksanaan moral tertinggal jauh di belakang.

Manusia modern berisiko menjadi korban dari ciptaannya sendiri bukan karena teknologi jahat, tetapi karena manusia tidak cukup bijak dalam mengelolanya. Inilah yang membedakan kemajuan dari peradaban. Kemajuan adalah soal kemampuan mencipta; peradaban adalah soal kemampuan mengelola ciptaan itu demi kemanusiaan.

Jalan Pulang: Hikmah sebagai Kompas

Menghadapi realitas ini, kita tidak bisa terus melarikan diri dari ciptaan sendiri. Jalan pulang dari Promethean Shame bukanlah menghindari teknologi, tetapi mengembalikan orientasi etis dan moral dalam setiap inovasi.

Ada tiga pendekatan penting yang perlu dipertimbangkan:

  1. Etika sebagai fondasi inovasi.
    Inovasi tidak boleh berdiri di ruang hampa nilai. Ia harus dipandu oleh prinsip-prinsip etis universal: keadilan, tanggung jawab, dan keberlanjutan.
  2. Pendidikan nilai dan filsafat.
    Dunia pendidikan tak cukup mengajarkan STEM (Science, Technology, Engineering, Math), tetapi juga harus menanamkan literasi moral, filsafat, dan humaniora sebagai fondasi berpikir kritis dan reflektif.
  3. Kesadaran akan keterbatasan manusia.
    Kita tidak harus menjadi dewa. Menjadi manusia yang sadar, bijaksana, dan bertanggung jawab justru lebih penting dalam menjaga keseimbangan hidup dan ciptaan.

Epilog: Dari Prometheus Menuju Penebusan

Dalam narasi mitologis, Prometheus dihukum karena memberi api kepada manusia. Dalam konteks kontemporer, mungkin kita adalah Prometheus yang baru namun kali ini, yang menyiksa diri bukan para dewa, melainkan ciptaan kita sendiri.

Rasa malu itu wajar. Tapi jangan sampai menjadi alasan untuk berhenti menjadi manusia. Justru dalam keterbatasan manusialah, lahir kebijaksanaan yang tidak dimiliki mesin: empati, cinta, dan kehendak untuk bertanggung jawab. Karena teknologi boleh melampaui kecerdasan kita, tetapi tidak boleh melampaui kemanusiaan kita.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *