“Guru Sahabat Keluarga di Kabupaten Cianjur: Menjawab Keresahan Sekolah untuk Membangun Kolaborasi dengan Orang Tua”

TEROPONG INDONESIA, Cianjur-, Sejak 15 Mei 2025, Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah yang terpilih untuk melaksanakan Program Guru Sahabat Keluarga (GSK), sebuah pelatihan strategis yang bertujuan memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat dengan Perkins International, dan merupakan pembaharuan dari pelaksanaan sebelumnya yang sukses di Provinsi Bali dan Kabupaten Sumedang.

Pelaksanaan program ini di Cianjur berangkat dari keresahan nyata yang disampaikan oleh para kepala sekolah dan guru, khususnya dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Mereka mengungkapkan bahwa selama ini telah berupaya maksimal untuk melibatkan orang tua dalam proses pendidikan anak, namun masih menemui berbagai hambatan. Banyak kepala sekolah merasa telah “melakukan segalanya” — mulai dari undangan pertemuan, komunikasi via grup WhatsApp, hingga kunjungan rumah — namun keterlibatan orang tua masih dirasa minim, bahkan terkadang menimbulkan masalah baru.

Dalam situasi inilah, Pelatihan Guru Sahabat Keluarga hadir sebagai jawaban. Selama pelatihan berlangsung, peserta merasakan pengalaman yang sangat transformatif. Mereka mengakui bahwa pelatihan ini bukan sekadar berbicara soal teori keterlibatan orang tua, melainkan mengajak peserta untuk merefleksikan praktik yang selama ini dijalankan, menelaah kekeliruan pola komunikasi, dan menyusun strategi yang lebih efektif dan empatik.

“Awalnya kami berpikir bahwa cara kami berkolaborasi dengan orang tua sudah cukup baik. Tapi ternyata setelah mengikuti pelatihan ini, banyak sekali hal yang perlu diperbaiki. Pelatihan ini membuka pikiran dan sangat menginspirasi,” ungkap Azfa Azami Usman, Kepala SLB Al-Azami, Kab. Cianjur

Dede Supriyanto sebagai Fasilitator kegiatan dari BBGTK Jabar  menyatakan bahwa para peserta sangat mengapresiasi metode pelatihan yang disampaikan secara komprehensif dan aplikatif. Materi yang disampaikan menyentuh aspek psikologis, sosial, dan kultural yang menjadi dasar terjadinya jarak antara sekolah dan keluarga. Tidak hanya itu, peserta juga diajak menyusun rencana tindak lanjut (RTL) untuk mengimplementasikan ilmu yang telah mereka dapatkan di sekolah masing-masing.

Salah satu kekuatan dari pelatihan ini adalah pendekatannya yang inklusif dan personal. Para fasilitator membangun suasana dialogis, membuka ruang diskusi atas permasalahan nyata yang dihadapi guru dan kepala sekolah, serta menghadirkan contoh-contoh praktik baik yang relevan dan bisa direplikasi sesuai konteks lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *