Penulis: Drs. H. Sukadi, M.I.L. (Guru Pendidikan Pancasila SMA Negeri 1 Bandung)
Disiplin Positif dan Nilai Kemanusiaan
Dalam Kurikulum Merdeka, disiplin positif merupakan salah satu pendekatan pendisplinan yang harus diterapkan dalam mengendalikan siswa. Guru tidak boleh lagi mendisiplinkan siswa dengan cara-cara konvensional, seperti mengendalikan dengan hukuman, memarahi, mencela, menjanjikan reward, dan pendekatan lain yang dapat menyisakan rasa kecewa, sakit hati, frustrasi, dan dendam siswa terhadap guru atau sekolah.
Zaman telah berubah, siswa sudah mulai menyadari akan hak-haknya dan bisa mengungkapkan perasaanya secara terbuka. Dengan perkembangan teknologi digital yang terkoneksi ke jaringan internet, siswa pun bisa mengunggah setiap perlakuan guru ke media sosial, sehingga jika kita salah memperlakukan mereka, meskipun tujuannya benar dan baik, kita akan dipersalahkan secara sosial dan hukum. Inilah zaman baru, di mana siswa telah menyadari akan rasa kemanusiaannya.
Berdasarkan alasan tersebut, sebagai pendidik kita harus mengubah pendekatan pendisiplinan dari cara-cara konvensional ke cara-cara baru yang kita kenal dengan “disiplin positif”. Pendekatan ini dipandang sebagai salah satu pendekatan pendisiplinan siswa yang ramah anak dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Disiplin Positif dan Segitiga Restitusi
Dalam laman ditsmp.kemdikbud.go.id disebutkan, disiplin positif adalah suatu pendekatan untuk menerapkan disiplin dari dalam diri siswa tanpa hukuman/kekerasan dan hadiah (reward). Dengan menerapkan disiplin positif, diharapkan tindak kekerasan dapat dihindari.
Pendekatan disiplin positif lebih menekankan pada bagaimana cara orang dewasa dalam memberikan dampak dan pengaruh positif kepada anak/siswa. Pendekatan disiplin positif menitikberatkan pada pendekatan yang bersifat positif tanpa kekerasan, memotivasi, merefleksi kesalahan, menghargai, membangun logika, dan bersifat jangka panjang. Pendekatan disiplin positif dimaksudkan untuk memantik munculnya kesadaran internal dari dalam diri siswa untuk mematuhi norma, aturan, atau kesepakatan hidup yang dianggap baik dalam suatu komunitas.
Dalam menerapkan pendekatan disiplin positif terdapat teori yang kita kenal dengan segitiga restitusi. Teori ini menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa guru dapat menyelesaikannya melalui tiga tahap, yakni tahap menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan mengaitkan dengan keyakinan yang dimiliki siswa. Dengan cara ini, siswa dapat menyadari kesalahannya tanpa merasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri secara terus- menerus, marah kepada guru, dan mendorong upaya siswa untuk menemukan solusi sendiri dalam menyelesaikan kesalahan yang diperbuatnya.
Penerapan Segitiga Restitusi dalam Mendisiplinkan Perilaku Siswa
Jika siswa melakukan pelanggaran disiplin dan diulang-ulang, guru wajib mengambil langkah-langkah tepat untuk mengatasi perilaku buruk yang diulang-ulang itu. Guru tidak boleh abai dengan perilaku buruk siswa yang diulang-ulang, sebab perilaku buruk yang demikian dapat menjadi karakter buruk bagi siswa. Namun, dalam menyelesaikan permasalahan disiplin siswa tersebut tidak dilakukan dengan cara-cara kasar dan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Itulah sebabnya, dalam Kurikulum Merdeka guru dituntut dapat menerapkan teori segitiga restitusi untuk mengatasi pelanggaran disiplin siswa.
Bagaimana langkah-langkah menerapkan teori segitiga restitusi untuk mengatasi pelanggaran disiplin siswa?
Berdasarkan pengalaman penulis, saat penulis menemukan seorang siswa yang sering terlambat masuk kelas, penulis menggunakan langkah-langkah berikut ini.
- Menanyakan alasan keterlambatan dan bersedia untuk memahami alasan yang dikemukakan siswa, tanpa berkomentar buruk terhadap alasan yang dikemukakan;
- Mencoba menenangkan kondisi psikologis siswa dengan mengatakan “Bapak dan banyak orang juga pernah mengalami keterlambatan”
- Mencoba mengelaborasi dari pengetahuan siswa mengenai hal-hal buruk yang terjadi jika keterlambatan itu dilakukan berulang-ulang;
- Setelah siswa memahami hal-hal buruk yang dapat terjadi jika keterlambatan dilakukan berulang-ulang, maka penulis mencoba mengajak siswa untuk mengaitkan pelanggarannya dengan keyakinan kelas yang sudah dibuat di awal semester;
- Selanjutnya, siswa diajak mencari solusi untuk mengatasi permasalahan keterlambatan yang dilakukan selama ini sehingga keterlambatan diakhiri. Penulis menekankan dan mengarahkan agar siswa menemukan ide dan gagasan sendiri dalam mengatasi permasalahannya;
- Setelah siswa menemukan solusinya dan bertekad untuk menerapkannya, maka penulis memberikan reinforcement (peneguhan) agar tekad untuk mewujudkan solusi itu semakin kuat.
- Langkah berikutnya, penulis meminta umpan balik kepada siswa atas apa yang penulis lakukan dengan format tertentu.
- Kemudian penulis memantau perkembangan selanjutny. Ternyata, siswa konsekuen dengan solusi yang dipilih sendiri. Siswa tidak terlambat lagi datang ke sekolah.
Berikut penulis sajikan dialog penulis saat menerapkan teori segitiga restitusi dalam mengatasi keterlambatan siswa yang diulang-ulang.
| Guru | : | Nabila, beberapa saat ini Bapak perhatikan Nabila suka terlambat datang ke sekolah. Apakah Bapak boleh tahu alasannya? |
| Siswa | : | Ya, Pak. Saya suka melakukan kegiatan di pagi hari. Saya jadi sering lupa waktu. |
| Guru | : | Baik, Nabila. Bapak mengerti. Aktivitas yang kamu lakukan di pagi hari sebelum ke sekolah tentu memiliki arti penting bagimu. Bapak dan orang lain juga pernah mengalami keterlambatan seperti yang Nabila lakukan sekarang-sekarang ini. Menurutmu, apakah keterlambatan ini menguntungkan bagi kemajuan belajarmu jika dilakukan terus-menerus? |
| Siswa | : | Tidak, Pak. Saya akan rugi jika terus-terusan terlambat. Saya akan ketinggalan pelajaran. |
| Guru | : | Nah, jika kamu sudah tahu akibat buruknya, bagaimana menurutmu jika dikaitkan dengan keyakinan kelas yang telah kita sepakati bersama di awal semester? Keyakinan kelas manakah yang kamu langgar dengan keterlambatanmu ini? |
| Siswa | : | Saya telah melanggar keyakinan kelas tentang “tanggung jawab dalam belajar”. Dalam keyakinan kelas disebutkan “Semua siswa harus bertanggung jawab dalam belajar”. |
| Guru | : | Baik, Nabila. Ternyata ingatanmu bagus! Nah, sekarang bagaimana rencanamu ke depan untuk mengatasi masalahmu ini? Apakah kamu punya ide untuk menyelesaikannya? |
| Siswa | : | Ya, Pak. Saya akan mengatur waktu saya sebaik mungkin. Saya akan melakukan aktivitas lain lebih pagi atau akan menunda di waktu lain setelah pulang sekolah. Saya akan mencoba untuk tidak terlambat lagi, Pak. |
| Guru | : | Kamu keren, Nabila. Bisa menemukan solusi atas permasalahanmu sendiri. Bapak bangga dengan tekadmu yang baik untuk memperbaiki kesalahan ini (Sambil mengacungkan jempol). |
Simpulan
Disiplin positif merupakan pendekatan pendisiplinan siswa yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan tanpa menyisakan rasa sakit hati, rendah diri, marah dan benci kepada guru, serta membangun kesadaran internal siswa untuk menemukan sendiri kesalahannya dan memperbaiki kesalahan itu dengan caranya sendiri. Pendekatan ini merupakan solusi dalam mengendalikan perilaku siswa di era digital dan kesadaran akan hak asasi manusia. Pendekatan ini juga merupakan implementasi dari konsep “pendidikan ramah anak” yang saat ini tengah dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional kita.
Dengan pendekatan ini, siswa merasa dihargai dan “dimanusiakan”, guru pun tidak harus banyak menguras energi untuk memarahi, mencela, atau mendisplinkan dengan kekerasan, hukuman, dan “iming-iming hadiah”. Dengan pendekatan ini, siswa senang guru bahagia.






