Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag, M.Pd Hafidzahulloh Bahas 5 Indikator Agar Puasa Diterima

TEROPONG INDONESIA-, Kajian gema ramadhan Syubbaanul Uluum membahas Fiqih Ramadhan. Bersama narasumber Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag, M.Pd Hafidzahulloh merujuk pada kitab As-Shiam Fii Al Islam buah karya Syaikh Sa’id Bin Ali Bin Wahf Al Qahthan. Kajian yang terbuka untuk umum berlangsung di Masjid Mujahidin Gandasari Katapang Kabupaten Bandung setiap malam kamis, jum’at dan sabtu di bulan Ramadhan 1445 Hijirah.

Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag, M.Pd pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang 5 indikator ibadah puasa yang diterima serta pahalanya. “Sudah semestinya pada saat ramadhan datang, seorang muslim mengevaluasi tentang ramadhan tahun lalu dan apa yang akan disempurnakan pada bulan ramadhan saat ini. Karena banyak orang yang mampu melakukan As-Shiam / berpuasa, namun tidak diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, hanya memperoleh lapar dan haus tanpa pahala”,jelasnya membuka isi ceramahnya.

Menurutnya dalam qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 terdapat penjelasan tentang tujuan dari berpuasa.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

“Ada lima indikator agar puasa diterima atau meraih derajat takwa, mulai dari menjaga pandangan, menjaga lisan, berahklak baik, menghindari perbuatan jahil, dan berbicara Rafats atau mengeluarkan perkataan merayu atau tidak senonoh yang mengandung unsur timbulnya nafsu birahi”,jelasnya kepada jama’ah yang hadir

Perintah menjaga pandangan terdapat pada quran surat An-Nur ayat 30-31 menjelaskan:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ(30)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Baca Juga :  Tontonan Dapat Dijadikan Tuntunan, Wayang Kulit 'Semar Boyong' Peringati HUT ke-78 MPR RI

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

Sedangkan arahan menjaga lisan bisa diartikan dengan sebisa mungkin, sekiranya kalau tidak bermanfaat dalam setiap ucapan lebih baik diam.

Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag, M.Pd menyampaikan perihal pentingnya akhlak yang baik saat menjalankan ibadah ramadhan dan larangan berbuat jahil.

“Harus ada sikap pembeda dalam keseharian saat menjalankan puasa dengan hari-hari di bulan lainnya. Misalnya harus lebih serius dan tenang. Tidak terlalu banyak bermain handphone dan berolah raga atau menyalurkan hobinya secara berlebih-lebihan”, ucapnya

Akhlak yang baik biasanya bersumber dari hati yang bersih / qolbun salim. Sebanyak apapun godaan yang menghadang, jika hatinya bersih akan dapat berbuah kebaikan.

Akhlak yang baik cenderung akan lebih mudah tumbuh ketika ramadhan, kerena ada momen keberkahan yang merubah kondisi lingkungan. Di antaranya masjid dipenuhi jam’ah sholat atau orang yang makan di siang haripun di bulan ramadhan akan malu. Kedua hal itu bagian dari keberkahan ramadhan. Suasana kebatinan di bulan ramadhan yang penuh magfiroh membuat umat islam dihindarkan dari kemaksiatan.

Ramadhan disebutkan bulan yang memiliki keistimewaan dengan dibukakan pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka. Jabir Bin Abdulloh menjelaskan bahwa makna pintu Surga dibuka ialah pahalanya dilipat gandakan.

Selain itu, momen menjelang berbuka sangat penting menentukan kesempurnaan dalam berpuasa. Maka sudah semestinya setiap muslim berwudhu terlebih dahulu dan berdo’a menjelang berbuka. Karena pada menit-menit itu ada waktu mustajabnya do’a.

Ustadz Ruslan Gunawan S.Ag, M.Pd juga mengungkapkan setiap amal ibadah itu ada batasan pahalanya, misalnya Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendirian.

Baca Juga :  Sambut Natal dan Tahun Baru 2024, Wapres Serukan Rakyat Indonesia Terus Jaga Harmoni, Kedamaian, dan Persatuan Bangsa

Sedangkan pahala amal ibadah lainnya dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah Swt menjanjikan untuk melipatgandakan pahalanya sampai 700 kali lipat.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Atau umroh di bulan ramadhan keutamaan pahalanya dijelaskan, Rasulullah ‎dalam sabdannya,  “Umrah di bulan ramadhan sama dengan haji bersama-sama denganku / Nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun berbeda dengan shaum atau berpuasa, pahalanya hanya Alloh yang mengetahui atau tidak dibatasi seperti pahala bersabar. Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW., bersabda: “Allah ‘Azzawajalla berfirman dalam hadits qudsi: “Semua amal perbuatan anak Adam yakni manusia itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”

Ibadah puasa itu istimewa, karena sesuatu yang biasanya halal seperti makan, minum dan jima antara suami istri, namun dilarang saat menjalankan ibadah di siang hari di bulan ramadhan.

https://www.youtube.com/watch?v=5rOhAxBRkoE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *