4 Strategi Sekolah Negeri Diperbatasan Daerah Bandung Barat Purwakarta Cegah Siswa Putus Sekolah

TEROPONG INDONESIA-, SMAN 1 Cikalong Wetan memiliki siswa yang jarak antara rumah dengan sekolahnya cukup jauh, sekitar 1.5 jam, jumlahnya diprediksi mencapai 20%. Selain itu kondisi siswa juga termasuk dari keluarga ekonomi tidak mampu. Sehingga untuk biaya transportasi rutin berangkat dan pulang sekolahnya perlu dibantu.

Drs. H Suhendiana Noor, M.M.Pd Kepala SMAN 1 Cikalong Wetan menjelaskan ada 4 strategi untuk mencegah siswa putus sekolah, jika kondisinya karena kesulitan ekonomi untuk membiayai transportasi berangkat dan pulang sekolah. “Maka pihak guru-guru berinisiatif mengumpulkan dana untuk kebutuhan siswa tersebut. Namun disisi lain siswa juga diarahkan untuk berjuang terlebih dahulu dengan jalan kaki sampai ke lokasi transportasi umum untuk mengurangi beban biaya ongkosnya. Jangan pakai ojek, sebab biaya ojeklah yang cenderung mahal, kadang mencapai 30-60 ribu,”jelasnya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (26-2-2024)

Menurutnya berdasarkan data siswa yang jarak tempuhnya dari rumah ke sekolah bisa menghabiskan waktu sekitar 1.5 jam, jumlahnya mencapai sekitar 20% dan kebanyakan dari kelompok siswa yang masuk jalur Keluarga Ekonomi Tidak Mampu / KETM. Sehingga mereka perlu diperhatikan secara khusus atau dibantu.

“Tetapi kalau siswa tersebut memiliki teman sekelas atau satu sekolah, maka akan dititipkan kepada siswa yang memakai kendaran sepeda motor ke sekolah,”ucapnya

Selain itu pihak sekolah juga bekerjasama dengan pesantren di sekitar sekolah untuk menangani siswa-siswa yang jarak ke sekolahnya paling jauh dengan menitipkan ke kobong / tempat tinggal di pesantren. Jadi pagi-siangnya belajar di sekolah, sore dan malamnya melaksanakan kegiatan di pesantren.

“Namun kalau siswa memang benar-benar kesulitan untuk belajar di sekolah secara langsung, pihak SMAN 1 Cikalong Wetan membuka kelas jarak jauh atau SMA Terbuka dengan menggunakan fasilitas kelas sekolah terdekat, misalnya SMPN di wilayahnya. Ada para guru yang khusus ditugaskan mengajar siswa SMA Terbuka yang jumlahnya mencapai 3 kelas. Mereka mendatangi siswanya setelah selesai mengajar di sekolah induknya. Alhamdulillah mereka untuk honornya dibiaya oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat,”ungkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *