Walikota Cimahi Tegaskan MPLS harus Jadi Kesan Pertama yang Membentuk Karakter

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar agenda tahunan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru. Lebih dari itu, MPLS merupakan momentum awal yang akan membentuk karakter, etika, dan pengalaman belajar siswa selama menempuh pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Ngatiyana saat membuka secara resmi pelaksanaan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 secara virtual dari Command Center Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Raden Demang Hardjakusumah, Senin (13/7/2026).

Kegiatan pembukaan diikuti oleh pengawas dan penilik pendidikan, kepala satuan pendidikan jenjang PAUD, SD, SMP, hingga pendidikan kesetaraan se-Kota Cimahi. Seluruh tenaga pendidik serta ribuan peserta didik baru juga mengikuti kegiatan tersebut secara daring dari sekolah masing-masing.

Dalam sambutannya, Ngatiyana mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap dunia pendidikan di Kota Cimahi. Setiap tahun, ribuan orang tua mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada sekolah-sekolah di Kota Cimahi sebagai tempat membangun masa depan.

“Ini menunjukkan antusiasme dan kepercayaan para orang tua untuk menitipkan buah hatinya di tempat-tempat terbaik,” ujar Ngatiyana.

Ia menegaskan bahwa setiap anak yang diterima di sekolah merupakan harapan baru bagi kemajuan Kota Cimahi. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Cimahi terus berupaya memastikan seluruh peserta didik memperoleh akses pendidikan yang berkualitas, aman, dan berkeadilan.

Pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, tercatat sekitar 15.000 calon peserta didik mendaftarkan diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.226 siswa berhasil diterima di satuan pendidikan yang menjadi pilihannya.

“Kita patut bersyukur, sebab di tengah padatnya masyarakat Kota Cimahi hari ini, kita masih mampu menyediakan daya tampung yang cukup memadai bagi anak-anak kita untuk mengenyam pendidikan yang layak,” katanya.

Ngatiyana juga memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan MPLS Ramah, yang menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari praktik perundungan maupun tindakan yang merendahkan martabat peserta didik baru.

Menurutnya, hari-hari pertama di sekolah akan menjadi pengalaman yang melekat dalam ingatan anak-anak. Karena itu, seluruh tenaga pendidik diminta memastikan setiap rangkaian kegiatan MPLS berlangsung edukatif, menyenangkan, dan penuh penghormatan terhadap hak-hak peserta didik.

“Sebab MPLS bukan hanya sebagai momentum perkenalan lingkungan dan budaya sekolah semata, namun juga menjadi kesan pertama yang akan memengaruhi pengalaman para siswa dalam menimba ilmu dan menata etika,” tegasnya.

Ia menambahkan, sekolah harus menjadi rumah kedua bagi setiap anak. Lingkungan pendidikan dituntut mampu menghadirkan suasana yang inklusif, nyaman, aman, serta memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk berkembang tanpa diskriminasi.

Menutup sambutannya, Ngatiyana mengajak orang tua dan masyarakat untuk turut mengawasi pelaksanaan MPLS di seluruh satuan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan MPLS bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan keluarga dan masyarakat agar anak-anak dapat memulai perjalanan pendidikannya dengan pengalaman yang positif.

“Mari sama-sama menjaga penyelenggaraan MPLS ini, agar anak-anak kita benar-benar memaknai MPLS sebagai momen berkenalan dengan warga sekolah, lingkungan, proses pembelajaran, dan budaya sekolah itu sendiri,” pungkas Ngatiyana. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *