Teropong Indonesia, KOTA BANDUNG – Dunia akademik Indonesia kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan pemalsuan riset yang dipresentasikan dalam forum internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark.
Dua peneliti Indonesia, Prihantini dan Rifaldy Putra, diduga menyampaikan materi penelitian yang bermasalah dalam konferensi tersebut. Dugaan itu mencuat setelah sejumlah peneliti menilai terdapat berbagai kejanggalan dalam isi presentasi yang dipaparkan.
Sorotan terhadap kasus ini pertama kali diungkap oleh dua peneliti, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat. Mereka menemukan sejumlah indikasi yang dianggap tidak lazim, mulai dari penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan materi hingga penggunaan nama lembaga penelitian bernama AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation yang diduga tidak memiliki kejelasan legalitas maupun rekam jejak akademik.
Dugaan tersebut kemudian berkembang menjadi polemik di kalangan akademisi dan peneliti karena dinilai dapat mencoreng kredibilitas riset Indonesia di tingkat internasional.
Menanggapi hal tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Aep Patah, menegaskan bahwa materi yang dipresentasikan Prihantini dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas akademik maupun penelitian yang dilakukan selama menempuh pendidikan di ITB.
“Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB,” ujar Aep Patah.
Diketahui, Prihantini merupakan alumni Program Magister FMIPA ITB angkatan 2020 dan telah menyelesaikan studinya pada tahun 2022. Saat menempuh pendidikan magister, ia menulis tesis berjudul Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena muncul dugaan bahwa keikutsertaan Prihantini dan Rifaldy dalam konferensi internasional tersebut hanya bertujuan memperoleh fasilitas dana hibah perjalanan atau travel grant untuk menghadiri kegiatan di luar negeri.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Prihantini maupun Rifaldy Putra terkait tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah akademisi mendorong adanya investigasi lebih lanjut guna memastikan validitas riset yang dipresentasikan serta menjaga integritas dunia ilmiah Indonesia di mata internasional. (Gani Abdul Rahman)





