Budaya  

Walikota Cimahi Ngatiyana Soroti Kebersamaan dalam Pawai Ogoh-Ogoh Lintas Agama di Cimahi

Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 di Kota Cimahi berlangsung semarak melalui pawai budaya ogoh-ogoh lintas etnis dan agama yang digelar di Lapangan Pussenarhanud, Jalan Sriwijaya Raya, Cimahi Tengah, Selasa (17/3/2026).

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, serta melibatkan berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang suku dan agama. Pawai tersebut tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan Nyepi, tetapi juga mencerminkan kuatnya harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat, terlebih karena momentum Nyepi tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan.

Dalam keterangannya, Ngatiyana menegaskan bahwa kolaborasi lintas agama yang terlihat dalam pawai ogoh-ogoh merupakan wujud nyata toleransi yang terus dijaga di Kota Cimahi.

“Kolaborasi antarumat beragama terlihat jelas di sini. Masing-masing saling menghargai dan menghormati. Inilah wajah Cimahi yang mengedepankan kerukunan,” ujarnya.

Pawai budaya ini diselenggarakan oleh Pura Wira Loka Natha dengan melibatkan partisipasi 23 etnis serta berbagai komunitas lintas agama, mulai dari Hindu, Islam, hingga kelompok masyarakat lainnya. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut menunjukkan semangat inklusivitas yang kuat di kota ini.

Ngatiyana juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta jajaran TNI, khususnya Danpusdik Arhanud yang telah memfasilitasi lokasi kegiatan.

“Alhamdulillah, pelaksanaan hari ini berjalan lancar dan aman dalam rangka peringatan Hari Nyepi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pawai ogoh-ogoh bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan juga representasi nyata keberagaman yang dimiliki Kota Cimahi. Dengan kehadiran puluhan etnis dari berbagai daerah di Indonesia, kegiatan ini menjadi miniatur persatuan nasional.

“Melalui pawai budaya ini terlihat bahwa Cimahi dihuni oleh 23 etnis dan berbagai agama yang hidup berdampingan secara harmonis,” ungkapnya.

Ngatiyana menegaskan bahwa keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Ia menyebut Kota Cimahi sebagai contoh daerah yang mampu merawat persatuan di tengah perbedaan suku, agama, dan ras.

“Dari Sabang sampai Merauke ada di Cimahi. Meski beragam, masyarakat tetap bersatu,” tegasnya.

Ia pun berharap nilai-nilai toleransi yang tercermin dalam pawai budaya ini dapat terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kondisi kota tetap aman, kondusif, dan harmonis.

Pawai ogoh-ogoh lintas etnis dan agama ini menjadi salah satu agenda penting dalam peringatan Hari Nyepi di Cimahi, sekaligus mempertegas bahwa keberagaman merupakan fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *