Teropong Indonesia, KOTA CIMAHI – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mengambil langkah proaktif dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas Sesar Lembang dalam sepekan terakhir.
Meskipun getaran yang terjadi berskala kecil dan tidak menimbulkan kerusakan, langkah antisipatif ini dilakukan untuk melindungi masyarakat dari potensi risiko di masa depan.
Tiga kali gempa bermagnitudo rendah telah tercatat dalam kurun waktu tujuh hari terakhir, masing-masing pada 14, 19, dan 20 Agustus 2025. Getaran terasa ringan di wilayah Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB), namun menjadi sinyal penting perlunya peningkatan kesiagaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan skema peningkatan status siaga bencana sebagai bagian dari sistem mitigasi terpadu di wilayah tersebut.
“Kami tidak menunggu hingga bencana besar terjadi. Saat ini fokus kami adalah memperkuat koordinasi dan memaksimalkan persiapan di lapangan,” ujar Andy, sapaan akrabnya, Minggu (24/8/2025).
Langkah nyata yang segera dilakukan Pemkot adalah pembentukan posko-posko siaga di titik strategis. Posko ini akan menjadi pusat informasi, koordinasi, dan layanan cepat jika sewaktu-waktu terjadi gempa atau dampak turunan lainnya.
Selain itu, BPBD Cimahi juga memperluas kerja sama lintas sektor, termasuk dengan TNI/Polri, tenaga medis, hingga relawan kebencanaan. Edukasi dan simulasi penanganan bencana akan digelar kembali secara berkala di sekolah, kantor, serta ruang publik lainnya.
“Kami ingin membangun budaya sadar bencana. Mitigasi bukan hanya urusan pemerintah, tapi harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Andy.
Sesar Lembang dikenal sebagai salah satu sesar aktif paling berisiko di Jawa Barat, membentang sepanjang 29 kilometer dari Gunung Manglayang hingga Padalarang.
Letaknya yang melintasi kawasan padat penduduk menjadikannya fokus utama para ahli geologi dan lembaga kebencanaan nasional.
Meski gempa-gempa terakhir belum menimbulkan dampak signifikan, para pakar mengingatkan bahwa aktivitas kecil bisa menjadi indikator akumulasi energi yang perlu dipantau secara serius.
BPBD Cimahi menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat secara individu dan kolektif. Masyarakat diimbau mengenali jalur evakuasi, memahami respons saat gempa, dan tidak mudah panik saat terjadi getaran.
“Kewaspadaan adalah kunci. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa meminimalkan dampak bencana secara signifikan,” ujar Andy.
Pemkot Cimahi menegaskan bahwa peningkatan status siaga bukanlah bentuk kepanikan, melainkan strategi jangka panjang membangun ketahanan kota terhadap ancaman bencana geologi. Ke depan, pendekatan berbasis komunitas akan diperkuat melalui pelatihan, simulasi, dan kampanye edukatif yang berkelanjutan.
Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat, Cimahi menatap masa depan yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan geologis secara cerdas dan terstruktur. (Gani Abdul Rahman)





