Ragam  

Hadiri Milangkala Abah Alam ke-84, Wali Kota Cimahi Tegaskan Peran Tokoh Budaya Tak Tergantikan

Teropong Indonesia, KOTA ClMAHI – Wali Kota Cimahi Ngatiyana menghadiri acara Milangkala Ramanda Adhitiya Alam Syah atau Abah Alam ke-84 tahun, Seninp (4/5/2026).

Kehadiran orang nomor satu di Kota Cimahi itu menjadi bentuk penghormatan pemerintah daerah terhadap tokoh budaya Jawa Barat yang dinilai memiliki kontribusi besar bagi pelestarian nilai-nilai tradisi di Cimahi maupun tingkat nasional.

Momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun, tetapi juga pengakuan atas peran penting para sesepuh dalam menjaga jati diri budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

Dalam sambutannya, Ngatiyana mendoakan agar Abah Alam senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, serta terus menjadi panutan bagi keluarga dan masyarakat.

“Semoga Abah Alam selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan masih bisa mengasuh cucu hingga cicit,” ujar Ngatiyana.

Ia menegaskan, sosok Abah Alam bukan sekadar tokoh budaya, tetapi figur yang memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Tokoh seperti Abah Alam harus tetap bersama masyarakat, membimbing dan menjaga budaya agar tidak hilang ditelan modernisasi,” tegasnya.

Ngatiyana juga mengenang kiprah Abah Alam sejak dirinya pertama kali menjabat di Cimahi. Menurutnya, Abah Alam dikenal konsisten memperjuangkan pelestarian budaya Sunda melalui gagasan nyata yang berdampak bagi kota.

Salah satu kontribusi penting yang disoroti adalah ide pemasangan Kujang di puncak Gunung Bohong, yang kini menjadi salah satu simbol budaya di Kota Cimahi.

“Salah satu bukti nyata kontribusi beliau adalah gagasan pemasangan Kujang di puncak Gunung Bohong,” kata Ngatiyana.

Ia menjelaskan, kujang seberat satu setengah ton yang kini berdiri kokoh di kawasan tersebut merupakan hasil inisiatif bersama Abah Alam dan Denrud 15.

Menurutnya, gagasan itu lahir dari kepedulian Abah Alam terhadap pentingnya menjaga identitas budaya Sunda di tengah perkembangan kota.

“Ini bentuk kecintaan beliau terhadap Cimahi dan budaya Sunda yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Ngatiyana menilai Milangkala ke-84 Abah Alam menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa pembangunan daerah tidak hanya soal fisik, tetapi juga soal menjaga akar budaya dan menghormati para sesepuh.

Ia pun berharap keteladanan Abah Alam dalam merangkul semua kalangan, menjaga kebersamaan, serta menanamkan nilai kesundaan dapat diteruskan generasi muda.

“Sikap beliau yang mampu merangkul semua kalangan harus diwarisi agar Cimahi tetap guyub, aman, dan berkarakter,” tutup Ngatiyana. (Gani Abdul Rahman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *