Pasaran Syawal Tijanud Dharari dan Fathul Qarib di Pesantren Cipulus, Ajang Silaturahmi Ribuan Santri Jawa Barat

TEROPONG INDONESIA-, Malam itu, usai pelaksanaan Shalat Isya, ribuan santri, baik putra maupun putri dari berbagai penjuru, terutama dari wilayah Jawa Barat, memenuhi Aula Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Cipulus, Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa-Rabu (23-24/4/2023).
Mereka terdiri dari berbagai generasi, mulai dari para ustadz, kiai muda, hingga figur-figur sepuh. Pesantren yang didirikan pada 1840 tersebut menggelar ngaji pasaran secara tahunan mulai tanggal 5 sampai 15 Syawal. Pasaran Tijanud Dharari dan Fathul Qarib tersebut menarik minat ribuan santri dari ragam pesantren di Jawa Barat.
Dalam sesi Ngaji Pasaran, KH Hasbillah Hadamy, Pengasuh Pesantren Al-Hikamussalafiyah di Cipulus, Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat, kerap menyelipkan lelucon yang sukses mengundang gelak tawa dari ribuan santri yang hadir. Tidak jarang pula, secara serentak, mereka menyanyikan syair-syair dengan irama khas Sunda, menambah keakraban dan keceriaan suasana Ngaji Pasaran di pesantren tersebut.
Ia menceritakan bahwa ngaji pasaran ini diinisiasi oleh almarhum ayahandanya, KH Adang Badruddin atau yang populer dipanggil dengan panggilan Abah Cipulus. “Tetapi saya lupa tahunnya tahun berapa, cuman saya ingat waktu kecil juga sudah ada, bahkan saya di waktu kecil juga, masih SD juga sudah disuruh ikut ngaji itu Fathul Qarib dan Tijanud Dharari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dirinya mendengar langsung dari ayahnya bahwa banyak yang ikut pengajian tahunan ke sini, bukan karena mereka benar-benar karena kemasyhuran ayahnya, tetapi karena waktu yang dipilih tepat. Di saat pesantren-pesantren yang lain tidak ada pengajian, di sini ada. “Kata Abah sih seperti itu pengakuannya, mungkin itu bentuk tawadhunya ya.
Kalau yang ikut Ngaji Pasaran di Jawa Barat semua ada, sekarang juga ada dari Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Cianjur, juga Depok, juga ada Bogor, Tangerang juga, Banten ada,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Ngaji Pasaran dilakukan setelah shubuh, lalu dilanjut lagi pada siang hari. Kemudian, setelah itu, mereka akan istirahat untuk Shalat Dzuhur, kemudian Shalat Ashar. Setelah Shalat Ashar, mereka akan masuk lagi, istirahat sebentar sebelum maghrib, dan kemudian biasanya mereka akan masuk lagi pada waktu maghrib.
Dia menyampaikan bahwa alumni dan santri-santri juga dipesankan oleh ayahnya untuk tetap mengaji. “Ya itu, ngaji jangan sampai berhenti gitu. Buat alumni-alumni disini juga seperti itu, keluar dari sini harus dilanjutkan ngaji,” imbuhnya.
Muhammad Syarifuddin dari Bandung menceritakan bahwa alasan mengikuti ngaji pasaran Cipulus pertama-tama adalah untuk mencari ilmu baru. Alasan kedua adalah untuk mencari teman baru, dan yang ketiga adalah untuk memperkuat persaudaraan melalui kebersamaan yang terbentuk di ngaji pasaran tersebut.
Menurutnya, meskipun peserta memiliki prinsip dan pemikiran yang berbeda-beda, mereka disatukan oleh kegiatan ngopi yaitu ngobrol tentang ilmu. “Untuk yang belum ikut, kita tunggu di sini, karena kalian akan menemukan pesan-pesan tersendiri ketika kalian berada di sini,” ujarnya.
Muhammad Zidan Hijaz dari Tasikmalaya mengungkapkan bahwa ngaji pasaran di Pesantren Al-Hikamussalafiyah yang dimulai dari tanggal 5 Syawal hingga tanggal 15 Syawal, meskipun durasinya singkat, namun kenangan yang dihasilkan sangat berkesan baginya.

Alasannya mengikuti ngaji pasaran adalah untuk menambah silaturahmi dengan pesantren-pesantren di Jawa Barat. Lebih dari itu, tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan yang lebih penting lagi, untuk mencari ridha dan berkah dari guru. “Alhamdulillah kesannya di ngaji pasaran ini sangat-sangat indah dan kenangan yang sangat berkesan meskipun waktunya singkat. Pesan yang belum ikut, kalian harus ikut,” terangnya.

(Sumber: ww.nu.or.id)

Baca Juga :  Bahtsul Masail Bersama Dr.Ny.Hj. Umnia Labibah S.Th.i, M.Si, Bolehkah Perempuan di Masa Iddah bekerja?...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *